Selasa, 26 Februari 2013

Titrasi (kemolaran larutan)


Menentukan kemolaran larutan
   A.    Tujuan
Menentukan konsentrasi HCl dan cuka dengan larutan NaOH melalui titrasi asam basa.

   B.    Alat dan Bahan
Alat :
1.     Erlemeyer
2.     Gelas ukur
3.     Labu
4.     Pipet
5.     Buret
6.     Corong
Bahan  :
1.     NaOH
2.     HCl
3.     Cuka
4.     Penolptalien
5.     Aquades

   C.     Landasan Teori
Titrasi asam basa yaitu metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi asa basa dari salah satu larutan yang dicampur. Kadar asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetrik. Volumetrik adalah teknis anaisis kimia kuantitatif untuk menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indikator dan kadar sampel ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan  persamaan reaksi. Titrasi asam basa dengan menggunakan teknik analisis untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi). Larutan konsentrasi sudah diketahui disebut larutan baku. Dalam titrasi ada istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi, dimana titik ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan disertai perubahan warna indikatornya. Titik akhir titrasiu adalah saat terjadinya perubahan warna indikator.

   D.    Langkah kerja
1.       Titrasi pada Hcl :
a.       Mengisi buret dengan larutan NaOH o,1 M sampai 50 mL.
b.      Memasukan 5 mL arutan HCl ke dalam elenmayer dan menambahkan 5 mL akuades.
c.       Menambahkan 2 tetes larutan penolptelein.
d.      Melakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH dari buret ke dalam labu elenmeyer, kemudian menggojognya.
e.      Menghentikan penetesan NaOH apabila larutan yang digojog berubah menjadi merah muda dan tidak hilang ketikan elenmeyer digojog kembali.
f.        Mencatat NaOH yang digunakan.
g.       Mengulangi percobaan sampai 4 kali.
2.       Titrasi pada cuka :
a.       Mengisi buret dengan larutan NaOH 0,1 M sampai 50 mL.
b.      Memasukan 5 mL larutan cuka kedalam baker glass dan menambahkan 2 tetes penolptelien.
c.       Mencairkan cuka dengan menambahkan akuades hingga 100 mL.
d.      Melakukan titrasi dengan cara meneteskan NaOH kedalam 25 mL cuka yang telah dicairkan pada labu elenmeyer, kemudian menggojognya.
e.      Menghentikan penetesan NaOH jika warna menjadi murah muada dan tidak hilang ketika digojog lagi.
f.        Mencatat NaOH yang digunakan.
g.       Mengulangi percobaan hingga 3 kali.

   E.     Data pengamatan
1.       Titrasi pada HCl
Percobaan ke
NaOH awal (mL)
NaOH akhir (mL)
NaOH terpakai
1
50
37
13
2
37
29
8
3
29
21
8
4
21
15
6
5
15
6
9
Rata –rata volume NaOH terpakai (mL)
8,8

2.       Titrasi pada cuka
Percobaan ke
Volume larutan cuka (mL)
Volume NaOH 0,1 M (mL)
1
25
13
2
25
10
3
25
14
Rata-rata volume NaOH yang digunakan (mL)
12,3



    F.     Pembahasan
Dalam percobaan titrasi kali ini, saya menguji dua larutan yaitu larutan HCl dan cuka. Titrasi HCl yang saya lakukan diperoleh reaksi :
Hcl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq)  + H2O .
Dari reaksi tersebut, koefisien yang digunakan adalah 1, maka:
Mol NaoH = m (koefisien) × Volume rata-rata NaOH
= 1 × 8,8 mL
= 8,8 mL
                Mol HCl  mol NaoH = 8,8 mmol
                M HCl =
                               =  
                               = 1 M
                               Dalam penghitungan molaritas HCl kali ini, volume yang digunakan adalah volume rata-rata NaOH yang digunakan selama 5 kali percobaan.
                      Sedangkan titrasi Cuka yang saya lakukan diperoleh reaksi:
                      Dari reaksi tersebut, koefisien yang digunakan dalah 1, maka:
                      Mol NaOH  = m  (keofisien) ×volume rata-rata
                                                                            = 1 × 12,3
                         = 12,3
Mol Cuka  mol NaOH =12,3 mmol
M cuka =   =
      = 0,5 M
                Dalam penghitungan molaritas cuka ini, volume yang digunakan adalah 25 yang sudah ditetapkan.
                                   Selain menentukan moliratas suatu percobaan dari percobaan tersebut saya bisa menentukan  kurva titrasi. Kurva titrasi yaitu grafik yang menyatakan perubahan pH pada asam dan basa (atau sebaliknya). Dan pada percobaan pertama adalah jenis tetrasi asam  kuat dan basa lemah. Maka diperoleh kurva :


                Sedangkan dalam percobaan kedua diperoleh titrasi asam kuat dengan basa kuat dengan asam kuat. Dengan kurva sebagai berikut:



G.    Kesimpulan
         Dari percobaain tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa untuk mentitrasi 1 M Hcl diperlukan sekitar 8,8 mL, sedangkan untuk mentitrasi 25 mL o,5 M cuka dibutuhkan 12,3 mL NaOH. Dan percobaan pertama dan kedua yaitu titrasi asam kuat dengan basa lemah.



H.    Daftar Pustaka
Purba, Michael. Kurikulum 2004. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga
               


Jumat, 22 Februari 2013

Praktiikum kimia


Menguji Asam Basa Dengan Indikator Alami dan Sintesis
   A.    Tujuan
Siswa dapat mengetahui larutan asam, basa dan netral dengan mengunakan indikator alami dan sintesis.
   B.    Alat dan Bahan
Alat :
1.    Plat tetes                                                             : 2 buah
2.    Pipet                                                                      : 2 buah
3.    Backer glas                                                          : 4 buah
4.    Mortal                                                                   : 1 buah                               
5.    Alu                                                                          : 1 buah
6.    Tabung reaksi                                                    : 3 buah
7.    Rak tabung reaksi            
Bahan :
1.    Larutan kunyit
2.    Ekstrak bunga sepatu
3.    Air
4.    Hcl
5.    Aquades
6.    NaOH
7.    H2SO4
8.    Penolptalien
9.    Metil Red
10. Biometilen biru
11.  Larutan jeruk
12. Minuman kemasan (Ale-ale)
13. Air sabun
14. Air gula
15. Air sumur
16. Air kapur
17. Air sungai
18.  Larutan garam
19. Air kelapa
20.  Lakmus biru
21. Lakmus merah
22. Indikator universal

   C.     Landasan Teori
      Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu sifat asam adalah rasanya yang masam. Kita juga mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebagai basa. Salah satu sifat basa yaitu dapat melarutkan lemak.
      Sifat asam-basa dari suatu larutan juga dapat ditunjukan dengan mengukur pH-nya. pH adalah suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam mempunyai pH lebih kecil dari 7, larutan basa mempunyai pH lebih besar dari 7, sedangkan untuk larutan netral memiliki pH=7.
      Pengertian asam menurut Arrthenius yaitu zat yang dalam air melepas ion H+. Dengan kata lain, pembawa sifat asam adalah ion H+. Sedangkan basa adalah senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion OH-. Jadi pembawa sifat basa adalah ion OH-.
      Untuk menyederhanakan penulisan, Sorensen mengusulkan konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+, yaitu sama dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+. Atau secara rumus : pH = -log (H+).
      Dalam menguji kandungan asam-basa suatu zat atau larutan dibutuhkan indikator asam-basa. Indikator asam-basa yaitu zat-zat warna yang dapat memperlihatkan warna berbeda dalam larutan yang bersifat asam dan dalam larutan yang bersifat basa.


   D.    Langkah kerja
1.      Menyiapkan alat dan bahan.
2.      Menuangkan larutan penguji kedalam plat tetes.
3.      Menambahkan zat yang akan diuji kedalam larutan penguji kedalam plat tetes.
4.      Mengamati perubahan warna yang terjadi yang terjadi.
5.      Mencatat perubahan warna.
6.      Menentukan pH dan sifat zat.



   E.     Pembahasan
      Dalam percobaan kali ini saya menggunakan dua indikator, yaitu indikator alami dan buatan. Indikator alami yang digunakan yaitu larutan kunyit dan bunga sepatu. Sedangkan indikator buatan yaitu PP(penolptalien),  metil red, lakmus merah, lakmus biru, indikator universal, dan biometilen biru.  Sedangkan larutan-larutan yang diuji yaitu air jeruk, minuman ale-ale, larutan sabun, larutan gula, air sumur, air kapur, air hujan, H2SO4, air garam, air kelapa, NaOH, Hcl, dan aquades.Setelah melakukan pengamatan saya dapat menyimpulkan bahwa larutan yang saya uji tersebut bersifat asam atau basa.
      Semua larutan yang diuji apabila dicampur dengan indikator penguji alami maupun buatan mengalami perubahan warna yang sesuai kriteria asam basa dapat disimpulkan sifat larutan tersebut. Jika perubahan warna menunjukan pH  1-7 maka larutan bersifat asam. Apabila pH 7- 14 maka larutan bersifat basa. Sedangkan larutan bersifat netral memiliki pH 7.
Setelah kami melakukan percobaan seperti yang tercantum pada langkah kerja, dari masing-masing larutan yang sudah diuji diperoleh hasil sebagai berikut :
a.       Jeruk
Pada larutan ini, setelah diuji dengan menggunakan larutan penguji Kunyit, Bunga, PP, Meti Red, Lakmus merah, lakmus biru, indikator universal, dan Biometlen Biru, hasilnya berturut-turut yakni menunjukkan warna kuning, merah, kuning kehijauan, merah, merah, kuning, kuning, kuning. Dari hasil tersebut dapat diketahui nilai pH nya yaitu 4. Menurut teori yang ada air jeruk termasuk dalam golongan larutan asam yang memiliki pH <7, dan hasil pengujian yang kami lakukan menunjukkan pH 4, yang berarti hasil sudah sesuai dengan teori yang ada.
b.      Minuman  (Ale-ale)
Minuman ale-ale diuji dengan indikator yang sama menunjukkan hasil sebagai berikut, kuning, merah, merah, merah, merah, merah, merah, dan merah. Hal tersebut menunjukkan bahwa minuman ale-ale memiliki pH 1 yang berarti bersifat asam.
c.       Air sabun
Saat menguji sifat asam basa air sabun dengan indikator yang sama dengan larutan jeruk, perubahan warna yang didapat yaitu, merah, merah muda, tidak berubah, biru, biru, netral, biru, dan biru. Saat dicampur dengan larutan kunyit berubah warna menjadi merah, hal tersebut dikarenakan warna dasar dari kunyit sendiri sangat pekat orange. Maka apabila ditambah dengan air sabun menjadi merah. Dan ketika diuji dengan bunga sepatu  merah perubahan warna merah muda dal tersebut kemungkinan karena warna dasar dari bunga tersebut merah. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa sabun bersifat basa dengan jumlah pH 9.
d.      Air kapur
Menguji air kapur dengan indikator yang sama didapatkan hasil perubahan warna saat dicampur dengan larutan kunyit yaitu berubah menjadi merah. sedangkan untuk indikator yang lainnya tidak mengalami perubahan warna.  Dari data tersebut maka air kapur bersifat netral yang memiliki pH 7.
e.      Air sungai
Ketika melakukan uji asam basa pada air sugai tidak ada perubahan warna yang terjadi. Hal tersebut dikarenakan air sungai bersifat netral dan memilki pH 7.
f.        Air garam
Sama halnya dengan pengujian air sungai, air garam yang diuji dengan indikator yang sama tidak mengalami perubahan warna. pH dari air garam ini yaitu 7 dan bersifat netral.
g.       Air kelapa
Air kelapa yang diuji dengan indikator yang sama dengan sebelumnya  menunjukkan sifat dari air kelapa adalah netral. Hal tersebut dikarenakan tidak terjadinya perubahan warna yang terjadi. Dan dinyatakan pH dari air kelapa adalah 7.
h.      Air gula
Air gula yang selama ini kita konsumsi sehari-hari tidak menunjukkan bersifat asam atau basa setelah diuji dengan indikator yang sama dengan larutan lainnya. Saat menguji tidak ditemukan perubahan warna yang terjadi,  maka air gula dikatakan netral yang memiliki ph 7.
i.         Aquades
Melakukan uji asam basa pada aquades menunjukan hasil yang sama dengan air gula. Tidak ada perubahan warna yang terjadi setelah aquades dicampur dengan indikator yang digunakan. Hal tersebut menunjukkan aquades bersifat netral.
j.        NaOH
Dilihat dari rumus kimia NaOH, sudah tampak bahwa NaOH bersifat basa. Kandungan OH didalamnya sangat mempengaruhi sifat basa. Hal tersebut terbukti setelah dilakukan uji larutan dengan indikator kunyit, bunga, metil red, dan biometlen biru,  menunjukkan perubahan warna berturut-turut sebagai berikut, biru, hijau, hijau, biru, dan merah. saat diuji dengan biometlen biru berubah menjadi merah dikarenakan warna dasar biometlen biru ini biru, maka perubahan warnanya merah dan bersifat basa dengan pH rata-rata 9.
k.       H2SO4
Menguji H2SO4 dengan indikator yang sama dengan indikator yang digunakan untuk NaOH menunjukkan hasil perubahan warna berturu-turut yaitu, merah, merah, merah muda, merah, dan kuning. Dari data tersebut pH rata-rata yaitu 3, maka larutan ini bersifat asam.

   F.     Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dengan indikator kunyit, bunga, PP, metil reb, lakmus merah, indikator universal, lakmus biru, dan biometlen biru, kami dapat menyimpulkan bahwa :
a.      Larutan yang  bersifat asam : jeruk, minuman ale-ale, HCl, dan H2SO4.
b.      Larutan yang bersifat basa : air sabun dan NaOH
c.       Larutan yang bersifat netral yaitu : air garam, air kelapa, air sungai, aquades, air kapur, dan air gula.

G. Dokumentasi



pembuatan ekstrak bunga sebagai indikator

saat melakukan pengujian


   H.    Daftar Pustaka
Purba, Michael. Kurikulum 2004. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga.
http://dinaseptember.blogspot.com/2012/04/perhitungan-ph-larutan-dengan-beberapa.html